Minggu, 08 Maret 2009

Perlunya Agama Islam

Adalah bodoh untuk membayangkan bahwa beberapa hal yang dikemukakan dalam kitab Injil sebagai agama. Semua hal yang yang esensial bagi kesempurnaan manusia harus tercakup dalam ruang lingkup suatu agama. Agama harus mencakup semua hal yang menuntun manusia dari kondisi alamiah liarnya kepada kondisi kemanusiaan yang sebenarnya, dan dari sana membawa manusia ke tingkatan hidup yang bijak, setelah itu membawanya lagi kepada kehidupan yang sepenuhnya merupakan pengabdian kepada Allah s.w.t.(Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 89, London, 1984).



Tidak ada keraguan bahwa kitab Injil tidak ada memberikan jalan bagi pemeliharaan pohon kemanusiaan. Kita ini turun di bumi dengan berbagai kemampuan dan sifat, dimana setiap kemampuan itu layaknya digunakan pada tempatnya yang tepat. Injil hanya menekankan kepada sifat “rendah hati”. dan “kelembutan.”. Sifat rendah hati dan pengampun memang merupakan sifat yang baik jika digunakan pada saat yang tepat, tetapi jika digunakan pada setiap keadaan maka hal itu akan membawa kerusakan dahsyat. Kehidupan budaya manusia terdiri dari saling pengaruh mempengaruhinya berbagai bentuk tabiat yang menuntut bahwa kita harus menggunakan sifat-sifat kita secara bijak pada saat yang tepat. Memang benar bahwa pada beberapa keadaan, sifat pengampun dan tabah akan memberikan manfaat material dan spiritual kepada orang yang menyakiti kita. Tetapi pada keadaan lain, penggunaan sifat tersebut hanya akan menggalakkan si pendosa tersebut untuk melakukan kejahatan yang lebih besar dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah. Kehidupan keruhanian kita dalam banyak hal menyerupai kehidupan phisikal. Berdasarkan pengalaman kita mengetahui bahwa memakan satu jenis makanan atau obat saja sepanjang waktu akan merusak kesehatan kita. Jika kita membatasi diri untuk suatu waktu panjang hanya menyantap makanan yang bersifat dingin dan sama sekali tidak makan sesuatu yang menghangat¬kan maka kita akan mudah terkena beberapa jenis penyakit seperti kelumpuhan, Parkinson atau epilepsi. Sebaliknya kalau kita membatasi diri pada unsur-unsur makanan yang hangat saja, dimana air minum pun harus panas, maka kita juga cenderung akan terkena beberapa jenis penyakit lainnya. Karena itu untuk menjaga kesehatan tubuh, kita harus menjaga keseimbangan di antara panas dan dingin, di antara yang keras dan yang lunak dan antara dinamika gerakan dengan istirahat. Menyangkut kesehatan ruhani, kita juga harus mengikuti ketentuan yang sama. Sesungguhnya tidak ada sifat yang sendirinya secara murni bisa dikatakan buruk. Adalah penyalahgunaan daripada sifat itu yang menjadikannya buruk. Sebagai contoh, sifat iri hati dikatakan buruk, tetapi jika kita menggunakannya untuk tujuan yang baik seperti berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, maka sifat iri demikian menjadi akhlak yang mulia. Begitu juga dengan sifat-sifat akhlak lainnya. Penyalah¬gunaan sifat itu akan menjadikannya merusak, tetapi pemanfaatan¬nya pada saat yang tepat dengan cara yang layak akan menjadikannya bermaslahat. Karena itu merupakan kesalahan untuk memotong cabang-cabang lain dari pohon kemanusiaan dan hanya menekankan pada “pengampunan”. dan “ketabahan”. saja. Karena itulah ajaran tersebut telah gagal dalam tujuannya dan para penguasa di negeri-negeri Kristiani harus menerapkan norma-norma hukum untuk penghukuman mereka yang bersalah. Kitab Injil yang sekarang ini tidak bisa menghasilkan penyempurnaan harkat kemanusiaan. Sebagaimana bintang-bintang mulai memudar dan kemudian menghilang dengan munculnya sang surya, begitu juga halnya dengan Injil dibanding dengan Al-Qur’an. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 13, hal. 66-67, London, 1984).
* * *
Telaah atas berbagai agama di dunia mengungkapkan bahwa setiap agama, kecuali Islam, mengandung berbagai kesalahan. Hal ini bukan karena sumbernya adalah salah, tetapi karena setelah turunnya agama Islam, Allah s.w.t. tidak lagi mendukung agama-agama lain sehingga agama-agama itu menjadi seperti taman-taman yang tidak lagi mempunyai tukan kebun untuk merawat, mengairi dan memeliharanya sehingga secara berangsur taman itu jadi melapuk. Pohon-pohon buah mereka jadi meranggas dan mandul, sedangkan semak dan duri merayap meliputi semuanya. Agama-agama itu kehilangan semangat keruhanian yang menjadi dasar dari semua agama, dan tidak ada lagi yang tersisa selain kata-kata usang. Allah s.w.t. tidak membiarkan hal seperti itu terjadi pada agama Islam karena Dia menginginkan agar taman ini harus subur berkembang selamanya. Dia telah mengatur agar di tiap abad ada yang mengurus pengairannya sehingga taman itu tidak menjadi terlantar. Meski pun pada awal setiap abad ketika diutus seorang hamba Allah untuk memperbaiki, orang-orang yang bodoh selalu menentang dan menolak perubahan atas apa pun yang telah menjadi kebiasaan mereka, namun Allah yang Maha Kuasa tetap bersiteguh dengan cara-Nya. Pada akhir zaman ini pun yang merupakan saat pertempuran terakhir di antara petunjuk kebenaran dan kebatilan, di awal abad keempatbelas karena melihat bagaimana umat Islam menjadi tidak perduli dan acuh, Allah s.w.t. kembali menunaikan janji-Nya dan menyiapkan kebangkitan kembali Islam. Hanya saja agama-agama lain tidak pernah disegarkan kembali setelah kedatangan Yang Mulia Rasulullah s.a.w. sehingga agama-agama itu mati jadinya. Tidak ada lagi kehidupan keruhanian dalam agama-agama itu dan kebatilan berakar di tengah mereka seperti halnya debu yang berakumulasi di pakaian yang tidak pernah lagi dicuci. Orang-orang yang tidak mempunyai perhatian atas keruhanian dan tidak terbebas dari noda eksistensi keduniawian, malah membuat agama-agama itu membusuk sehingga sama sekali tidak lagi mirip dengan keadaan pada awal ketika agama tersebut diturunkan. Ambillah sebagai contoh agama Kristen, betapa murninya agama itu pada awalnya. Ajaran yang diberikan Nabi Isa a.s. memang tidak sesempurna ajaran Al-Qur’an karena saat itu belum waktunya manusia menerima wahyu ajaran yang sempurna dan mereka belum cukup kuat untuk menanggungnya, namun ajaran tersebut amat baik dan cocok untuk zamannya. Ajaran itu juga menuntun manusia kepada Tuhan yang sama sebagaimana disuratkan oleh Taurat, hanya saja setelah Nabi Isa a.s., tuhannya umat Kristen menjadi tuhan yang lain yang tidak ada disebut dalam Taurat dan tidak dikenal sama sekali oleh Bani Israil.
Keimanan kepada tuhan yang baru ini telah menjungkir-balikkan sistem Taurat dan semua ajaran yang terkandung di dalamnya karena pelepasan dari dosa dan upaya pencapaian keselamatan haqiqi serta kehidupan yang suci, menjadi kacau balau. Keselamatan dan pelepasan dari dosa sekarang menjadi bergantung pada kepercayaan bahwa Yesus menerima penyaliban sebagai penebusan umat manusia dan bahwa beliau adalah Tuhan itu sendiri. Banyak sekali kaidah-kaidah tetap dari Taurat yang telah diubah dan agama Kristen menjadi begitu berubah sehingga jika misalnya Yesus turun lagi ke dunia maka beliau tidak akan lagi mengenalinya sebagai ajaran yang dibawanya. Ajaib sungguh bahwa manusia yang diperintahkan untuk mentaati Taurat, lalu tiba-tiba mengesampingkan ajaran-ajarannya. Sebagai contoh, meski pun Injil menyatakan bahwa Taurat melarang makan daging babi, namun hal itu sekarang diperkenankan. Begitu juga Injil menyatakan bahwa walaupun Taurat mengharuskan khitan, tetapi sekarang hal itu malah dilarang. Hal-hal seperti ini dan apa yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi Isa a.s. malah menjadi bagian dari agama Kristen. Hanya saja, karena memang sudah menjadi bagian dari rencana Allah s.w.t. untuk menegakkan sebuah agama yang universal yang bernama Islam, maka semua kelapukan dari agama Kristen menjadi indikasi dari kemunculan Islam. Begitu juga diketahui bahwa agama Hindu sudah melapuk jauh sebelum kedatangan agama Islam dimana di seluruh bagian India, penyembahan berhala sudah menjadi hal yang umum. Bagian dari pembusukan itu berasal dari aqidah bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak tergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya, dalam pandangan bangsa Arya dianggap amat bergantung kepada yang lainnya dalam penciptaan alam semesta. Aqidah seperti ini melahirkan aqidah salah lainnya yang mengatakan bahwa semua partikel massa dan semua jiwa bersifat abadi dan ada berwujud tanpa diciptakan. Kalau saja mereka mempelajari secara mendalam sifat-sifat Tuhan, maka mereka tidak akan mungkin mengatakan hal demikian. Jika dalam pelaksanaan sifat-sifat abadi-Nya dalam kegiatan penciptaan ternyata Tuhan harus bergantung kepada yang lain seperti halnya manusia, lalu bagaimana mungkin Dia dalam sifat mendengar dan melihat menjadi tidak terlalu bergantung sebagaimana halnya manusia. Manusia tidak bisa mendengar tanpa perantaraan udara dan tidak bisa melihat tanpa bantuan cahaya. Apakah Tuhan juga bergantung pada cahaya dan udara untuk melihat dan mendengar? Jika Dia tidak bergantung demikian maka yakinlah bahwa Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam melaksanakan sifat-sifat-Nya ketika kegiatan penciptaan.
Adalah salah sama sekali menyangka bahwa Dia bergantung kepada yang lain dalam pelaksanaan atribut-atribut-Nya. Adalah salah sama sekali melekatkan atribut kelemahan manusia kepada Tuhan, seperti dikatakan bahwa Dia tidak mampu menciptakan sesuatu dari ketiadaan sama sekali. Keadaan manusia itu terbatas adanya sedangkan keadaan Tuhan itu tanpa batas. Atas dasar kekuasaan Wujud-Nya, Dia itu bisa saja menciptakan makhluk lainnya. Inilah yang menjadi inti pokok dari konsep ke-Tuhan-an. Dia itu tidak bergantung kepada apa pun dalam pelaksanaan sifat-sifat-Nya karena jika demikian adanya maka Dia bukanlah Tuhan. Tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Jika Dia bermaksud menciptakan langit dan bumi secara seketika, maka Dia akan bisa melakukannya. Dari antara umat Hindu yang memiliki selain pengetahuan juga menganut keruhanian serta tidak bergantung kepada logika dasar, mereka ini tidak mengimani Tuhan sebagaimana yang dikemukakan bangsa Arya saat ini. Semua ini adalah akibat dari ketiadaan keruhanian di dalam agama tersebut.
Semua pembusukan agama, beberapa di antaranya bahkan tidak layak disebut dan bertentangan dengan kesucian kemanusiaan, merupakan indikasi perlunya ada agama Islam. Setiap orang yang berpikir pasti mengakui bahwa sejenak sebelum turunnya Islam, agama-agama lain telah membusuk dan kehilangan keruhaniannya. Hadzrat Rasulullah s.a.w. adalah seorang pembaharu akbar dalam bidang kebenaran yang telah mengembalikan kebenaran kepada dunia. Tidak ada Nabi lain yang bisa menyamai beliau dalam kebanggaan bahwa beliau menjumpai dunia ini dalam kegelapan dan dengan turunnya beliau lalu merubah kegelapan menjadi Nur. (Khutbah Sialkot berjudul “Islam,”. Sialkot, Mufid Aam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 203-206, London, 1984).
Read More ..

Berkat Agama Islam

Sekarang aku akan memperjelas apa yang dimaksud dengan buah daripada Islam. Ketika seorang pencari kebenaran Tuhan memutuskan untuk menerima Islam dan seluruh panca indranya mulai menapaki jalan Allah yang Maha Kuasa tanpa ada kepura-puraan maka hasil dari upayanya itu akan berbentuk bimbingan Ilahi dalam manifestasi yang lebih tinggi lagi, bebas dari segala hambatan, langsung menuju kepada Wujud-Nya.


Berbagai macam berkat akan turun atas dirinya dan semua aqidah serta perintah yang tadinya diterima hanya karena mendengar atau diyakini, sekarang dialami sebagai suatu realitas dan kepastian melalui media ru”.ya, kashaf dan wahyu. Rahasia-rahasia keimanan dan shariah dibukakan kepadanya dan ia diberikan kesempatan untuk melihat kerajaan Ilahi, dan dengan demikian ia mencapai tingkat keyakinan dan pemahaman keimanan yang sempurna. Karunia berkat akan memberi tanda pada lidah, perkataan, tindakan dan semua gerakannya. Ia akan dikaruniai keberanian dan keteguhan yang luar biasa, dan kemampuan pemahamannya akan berkembang ke tingkat yang amat tinggi. Ia akan terbebas dari berbagai hambatan manusiawi seperti kekejian, kekikiran, kecenderungan untuk tersandung terantuk-antuk, kecupetan pandangan, godaan hawa nafsu, akhlak yang rendah serta semua kegelapan dalam egonya, dan ia akan diisi dengan Nur dari sifat-sifat Ilahi.

Dengan demikian ia akan menjalani perubahan total dan seolah-olah mengenakan pakaian dari suatu kelahiran baru. Ia selanjutnya mendengar melalui Allah yang Maha Kuasa, melihat melalui Dia, bergerak bersama-Nya, berhenti karena Dia, kemarahan dirinya menjadi kemurkaan Allah dan kasih sayang dirinya menjadi kasih dari Dia yang Maha Perkasa.

Ketika ia sampai pada taraf demikian maka doa-doanya telah didengar sebagai pertanda bahwa ia itu telah terpilih dan bukan semata-mata sebagai suatu percobaan. Ia akan menjadi bukti eksistensi Allah di muka bumi dan menjadi lambang keamanan dari Tuhan. Langit bergembira atas keadaannya dan berkat dengan nilai yang paling tinggi akan dikaruniakan kepadanya dalam bentuk firman Tuhan yang bebas dari segala keraguan yang akan langsung turun ke hatinya, seperti sinar bulan yang menembus langsung tanpa ada kabut yang menghalangi. Nur tersebut membawa rasa kesenangan yang efektif dan memberikan kepuasan, keselesaan dan keamanan. Perbedaan di antara komunikasi dengan Tuhan seperti ini dibanding dengan wahyu adalah wahyu merupakan sumber mata air yang mengalir abadi bagi hamba-hamba Allah yang terpilih. Mereka itu berbicara, melihat dan mendengar bersama Rohul Kudus dan segala niat mereka merupakan hembusan nafas Rohul Kudus. Sesungguhnya mereka itu menjadi cerminan dan peneguhan dari ayat:(S.53 An-Najm:4-5) “Ia tidak berkata-kata menurut kehendak sendiri. Perkataannya tidak lain melainkan wahyu bersih yang diwahyukan oleh Allah”.
Hal itu hanya bisa digambarkan sebagai manifestasi khusus dari Allah yang Maha Agung yang disampaikan melalui malaikat pilihan. Tujuannya adalah memberikan kesan dari terkabulnya doa-doa yang bersangkutan, atau untuk memberitahukan sesuatu yang baru atau rahasia, atau menyangkut suatu kejadian di masa depan, atau menyampaikan keridhoan atau teguran Ilahi mengenai apa pun, atau juga untuk memberikan kepastian dan pemahaman mengenai suatu hal. Semua itu merupakan firman Ilahi yang dimanifestasikan dalam bentuk percakapan dalam rangka mencipta¬kan pemahaman dan kepuasan. Sulit untuk menjelaskannya lebih lanjut. Semuanya itu berbentuk suara yang datang dari Allah dan diterima dalam bentuk kata-kata yang memberikan kenikmatan penuh dengan berkat, dilambari manifestasi dari keagungan samawi, serta bebas sama sekali dari refleksi atau perasaan dirinya sendiri.
(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 226-233, London, 1984).
* * *
Aku hanya beriman kepada Islam saja sebagai satu-satunya agama yang benar dan menganggap agama-agama lain sebagai kumpulan berkas kepalsuan. Aku meyakini bahwa dengan beriman kepada agama Islam maka curahan Nur mengalir di seluruh tubuhku. Melalui kecintaan kepada Hadzrat Rasulullah s.a.w. aku telah mencapai tingkat kedekatan samawi yang tinggi, serta terkabulnya doa-doaku yang hanya bisa dicapai oleh seorang pengikut Nabi yang benar Rasulullah s.a.w. dan bukan dengan cara lain. Kalau umat Hindu dan Kristen atau pun yang lainnya memohon kepada tuhan-tuhan palsu mereka, bahkan sampai mati pun mereka tidak akan pernah mencapai tingkatan tersebut. Aku benar-benar mendengar suara Tuhan, yang bagi orang lain baru menjadi teori saja. Aku telah diperlihatkan dan diberitahukan serta dijadikan menyadari bahwa hanya Islam saja yang merupakan agama yang benar di dunia. Juga diungkapkan kepadaku bahwa semua yang aku terima itu adalah karena berkat dari mengikuti Khatamul Anbiya s.a.w. dan padanannya tidak akan ditemukan pada agama lainnya, karena semua agama itu adalah palsu.
(Ayena Kamalati Islam, Qadian, Riyadh Hind Press, 1893; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 5, hal. 275-276, London, 1984).
* * *
Beribu syukur bagi Allah yang Maha Kuasa yang telah menganugerahkan kepada kita sebuah agama yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan mengenai dan ketakutan kepada Tuhan yang tidak ada padanannya sepanjang masa. Beribu berkat semoga diturunkan kepada Yang Mulia Nabi Suci s.a.w. melalui siapa kita masuk dalam agama ini dan beribu rahmat semoga dilimpahkan kepada para sahabat beliau yang telah mengairi taman ini dengan darah mereka.
Islam adalah agama yang demikian diberkati dan dekat dengan Tuhan sehingga orang yang mengikutinya dengan tulus dan mematuhi semua ajaran, tegahan dan petunjuknya sebagaimana diutarakan dalam Kitab Suci Allah yang Maha Luhur yaitu Al-Qur’an, maka ia akan bersua Tuhan bahkan dalam kehidupan ini sekarang. Untuk mengenali Tuhan yang tersembunyi dari pandangan dunia di belakang ribuan cadar, tidak ada cara lain kecuali dengan mengikuti ajaran Al-Qur’an. Al-Qur’an Suci menuntun kita menuju Allah yang Maha Perkasa melalui penalaran dan tanda-tanda samawi dengan cara yang mudah. Kitab ini mengandung berkat dan kekuatan magnetis yang akan menarik seorang pencari Tuhan ke arah Wujud-Nya serta memberikan Nur, kepuasan dan kenyamanan. Seorang yang beriman sepenuhnya kepada Al-Qur’an tidak hanya akan merenungi bahwa selayaknya ada sosok Pencipta dari alam yang begini indah sebagaimana yang dilakukan para filosof, tetapi ia juga akan memperoleh wawasan batin dan dikaruniai kashaf mulia yang dilihat dengan keyakinan pandangan bahwa Sang Pencipta itu memang benar ada. Ia yang dikaruniai dengan Nur dari Firman Suci itu tidak hanya akan menerka-nerka saja sebagaimana mereka yang bersandar kepada logika semata bahwa Tuhan itu Esa, tanpa sekutu, tetapi melalui beratus tanda-tanda cemerlang yang menuntunnya keluar dari kegelapan, melihat sebagai suatu kenyataan bahwa Allah memang tidak mempunyai sekutu, baik dalam Wujud-Nya mau pun dalam Sifat-sifat-Nya. Ia akan mampu menunjukkan kepada dunia bahwa ia meyakini Ketauhidan Ilahi. Keagungan dari Ketauhidan Ilahi memenuhi seluruh relung kalbunya sehingga sejalan dengan kehendak Ilahi, ia akan memandang seluruh dunia ini tidak lebih baik daripada melihat serangga mati dan bahkan tidak berarti apa-apa sama sekali. (Barahin Ahmadiyah, bag. V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 25-26, London, 1984).
Read More ..

Sabda Imam Mahdi

Ada sebuah janji di dalam Al-Qur’an bahwa Allah s.w.t. akan memelihara Islam saat menghadapi bahaya dan percobaan seperti diungkapkan dalam ayat:
“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”. (QS.Al-Hijr(15):10).
Sesuai dengan janji tersebut maka Allah yang Maha Perkasa akan menjaga Firman-Nya dengan empat cara.

Pertama, melalui daya ingat mereka yang telah menghafal keseluruhan Al-Qur’an sehingga keutuhan teks dan urutannya tetap terjaga.

Pada setiap zaman terdapat ratusan ribu orang yang menghafalkan Al-Qur’an di luar kepala dimana jika ada yang menanyakan satu kata saja, mereka ini dapat mentilawatkan kalimatnya. Melalui cara ini Al-Qur’an dipelihara terhadap penyimpangan verbal sepanjang masa. Kedua, melalui ulama-ulama akbar di setiap zaman yang memperoleh pemahaman Al-Qur’an, dimana mereka ini menafsirkan Al-Qur’an dengan bantuan Hadits, sehingga dengan cara tersebut Firman Tuhan terpelihara dari penyimpangan penafsiran dan arti. Ketiga, melalui para cendekiawan yang mengungkapkan ajaran Al-Qur’an berdasarkan logika dan dengan demikian memeliharanya terhadap serangan dari para filosof yang berpandangan cupat. Keempat, melalui mereka yang mendapat karunia keruhanian dimana mereka di setiap zaman menjaga Firman Suci Tuhan terhadap serangan-serangan dari mereka yang menyangkal mukjizat dan wawasan keruhanian. (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 288, London, 1984).
* * *
Jangan sampai umat Islam berpandangan bahwa turunnya wahyu dimulai dengan kedatangan Nabi Adam a.s. dan telah berakhir dengan selesainya penugasan Hadzrat Rasulullah s.a.w. sehingga setelah beliau lalu dianggap wahyu Ilahi tidak ada lagi. Janganlah kita mempunyai keyakinan seperti bangsa Hindu yang berpendapat bahwa Firman Tuhan hanya terbatas kepada apa yang sudah disampaikan-Nya saja. Sejalan dengan aqidah Islam, yang namanya firman, pengetahuan dan kebijakan-Nya, sebagaimana juga Wujud-Nya, adalah bersifat tidak terbatas. Allah yang Maha Agung berfirman:
“Katakanlah: “Sekiranya setiap lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhan-ku, niscayalah lautan itu akan habis sebelum kalimat-kalimat Tuhan-ku habis, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai bantuan tambahan”“. (S.18 Al-Kahf:110).
Kami memahami telah berhentinya wahyu Ilahi turun ke bumi dalam pengertian bahwa karena yang telah diturunkan berupa Al-Qur’an sudah sangat lengkap guna memperbaiki kondisi umat manusia maka tidak akan ada lagi kaidah baru. Pada saat diturunkannya Al-Qur’an tersebut, segala hal yang berkaitan dengan akhlak, aqidah dan perilaku manusia sudah rusak sama sekali dimana segala bentuk penyimpangan dan kejahatan telah mencapai puncaknya. Karena itulah ajaran yang dibawa Al-Qur’an bersifat sangat komprehensif. Dalam pengertian inilah dikatakan bahwa kaidah yang dikemukakan Al-Qur’an bersifat sempurna dan terakhir atau final, sedangkan kaidah yang dibawa oleh Kitab-kitab suci terdahulu itu tidak lengkap karena tingkat kejahatan manusia di masanya belum mencapai klimaks sebagaimana saat diturunkannya Al-Qur’an.
Perbedaan di antara Al-Qur’an dengan Kitab-kitab yang diwahyukan lainnya adalah meskipun Kitab-kitab itu dipelihara dengan segala cara, tetapi karena ajaran yang dibawanya tidak sempurna maka masih diperlukan diwahyukan¬nya Al-Qur’an sebagai ajaran yang paling sempurna. Hanya saja tidak akan ada lagi Kitab lain yang akan diwahyukan setelah Al-Qur’an karena tidak ada sesuatu yang bisa melampaui apa yang namanya kesempurnaan. Bilamana diandaikan bahwa prinsip-prinsip hakiki dari Al-Qur’an bisa disesatkan seperti halnya Veda dan Injil dimana manusia menciptakan sekutu bagi Tuhan-nya serta ajaran Ketauhidan Ilahi diselewengkan dan disesatkan sehingga berjuta-juta umat Islam lalu mengikuti syirik dan menjadi penyembah makhluk, maka dalam keadaan seperti itu bisa jadi perlu diwahyukan syariat baru dan diutus seorang Rasul baru. Namun perandaian seperti ini jelas tidak masuk akal.
Penyesatan ajaran Al-Qur’an tidak mungkin terjadi karena Allah yang Maha Agung telah berfirman:
“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”. (S.15 Al-Hijr:10).
Kebenaran daripada nubuatan ini telah dibuktikan sepanjang sejarah selama 1300 tahun terakhir. Sejauh ini tidak ada ajaran pagan atau penyembahan berhala bisa berhasil menyusup ke dalam Al-Qur’an sebagaimana yang terjadi pada Kitab-kitab suci lainnya. Pikiran waras pun tidak bisa membayangkan bahwa hal seperti itu dapat terjadi. Berjuta-juta umat Islam telah menghafalkan Al-Qur’an di luar kepala dan terdapat ribuan buku tafsir yang akan menjaga arti dan pengertiannya. Ayat-ayatnya ditilawatkan dalam shalat lima kali sehari dan Kitab ini dibaca orang setiap hari. Kitab ini dicetak di semua negeri-negeri di dunia dalam jumlah jutaan buku dimana ajarannya karena diketahui oleh setiap orang sehingga kita pun menyadari secara pasti bahwa adanya perubahan atau penyimpangan dalam ayat-ayat Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sama sekali tidak mungkin terjadi. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 100-102, London, 1984).

Read More ..